Dalam Menjalankan Amalan Ibadah Harus Ada Tuntunannya

Keyword
Find

ibadah yang sering kita lakukan apakah sudah sesuai yang diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW? Sebagai orang muslim seharusnya dalam melakukan amal ibadah harus menurut apa yang sudah menjadi ketetapan dalam  ajaran agama Islam. Kita tidak boleh membuat ketetapan-ketetapan baru dalam hal ibadah karena hal itu akan tertolak di samping itu juga berdosa, seburuk-buruk ibadah adalah ibadah yang baru.

Sebelum memulai tulisan ini, saya jelaskan di muka bahwa dengan tulisan ini saya tidak ada maksud untuk memojokkan orang atau organisasi tertentu, saya juga tidak menunjuk orang atau organisasi tertentu dan saya juga tidak ada maksud untuk menyalahkan atau menjelek-jelekkan amaliyah orang atau organisasi tertentu. Dengan tulisan ini saya kenakan pada diri saya pribadi, saya tunjuk diri saya pribadi, sudah sesuai tuntunan agamakah amalan ibadah yang saya lakukan selama ini?

itu sudah paten, tidak boleh ditambah-tambahi dan tidak boleh dikurangi, kita berusaha melaksanakan semaksimalnya sesuai yang sudah kita ketahui dalil pelaksaannya. Untuk urusan ibadah asalnya haram dilakukan, kecuali yang diperintahkan oleh Allah SWT dan pelaksaannya sesuai yang dicontohkan oleh Rasul-Nya, karena sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi semua bentuk ibadah harus ada tuntunannya. Sedangkan untuk urusan duniawi atau yang bukan urusan ibadah semua mubah kecuali bila ada dalil larangannya.

Sabda Rasulullah saw: ”Aku meninggalkan kalian dua hal. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, maka kalian tidak akan pernah , yaitu Kitab Alloh dan Sunnah NabiNya” (Hadits Riwayat Malik)

Dari Jabir bin Abdillah berkata : Jika Rasulullah berkhutbah maka merahlah kedua mata beliau dan suara beliau tinggi serta keras kemarahan (emosi) beliau, seakan-akan beliau sedang memperingatkan pasukan perang seraya berkata "Waspadalah terhadap musuh yang akan menyerang kalian di pagi hari, waspadalah kalian terhadap musuh yang akan menyerang kalian di sore hari !". Beliau berkata, "Aku telah diutus dan antara aku dan hari kiamat seperti dua jari jemari ini, Nabi menggandengkan antara dua jari beliau yaitu jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau berkata : "Kemudian daripada itu, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru dan semua bid'ah adalah " (HR Muslim no. 2042)

"Sebenar-benar perkataan adalah Kitab Alloh (Al-Quran), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesasatan tempatnya neraka"

Bid'ah di sini adalah untuk urusan ibadah, semua bentuk ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah adalah sesat. Dengan mengada-adakan ibadah baru yang tidak dicontohkan Rasulullah berarti kita merasa lebih pandai dari Rasulullah, ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah dianggapnya masih belum cukup sehingga kita perlu menambah-nambah ibadah baru lagi. Padahal sebaik-baik ibadah itu adalah ibadah yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad SAW.

Wahai  manusia,  sesungguhnya  telah  datang  Rasul  (Muhammad)  itu kepadamu  dengan  (membawa)  kebenaran  dari  Tuhanmu,  maka berimanlah  kamu,  itulah  yang  lebih  baik  bagimu.  Dan  jika  kamu  , (maka  kekafiran  itu  tidak  merugikan  Allah  sedikit  pun)  karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisaa’ : 170)

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Bagaimana dengan Bid'ah Hasanah?
Rasulullah melaksanakan sholat tarawih di masjid hanya tiga kali saja dan selanjutnya beliau sholat tarawih sendiri di rumah. Hal ini dilakukannya karena beliau khawatir kalau sholat tarawih ini akan dianggap wajib oleh umatnya. Ketika Nabi tidak datang untuk mengimami sholat tersebut, para sahabat sholat sendiri-sendiri di masjid, kemudian Umar Bin Khatab mengatur untuk sholat tarawih berjamaah. Kalau hal ini dinamakan bid'ah, inilah satu-satnya bid'ah hasanah karena Rasulullah tidak memerintahkannya akan tetapi Rasulullah juga tidak melarangnya.

Sedangkan untuk urusan duniawi itu tidak termasuk bid'ah. Dalam urusan duniawi Rasulullah menyerahkan pada kita untuk mengembangkannya karena kita lebih tahu untuk urusan duniawi tersebut. Maka dari itu kalau kita pergi naik pesawat, naik mobil, menggunakan tehnologi canggih seperti laptop, handphone, makan dengan garpu, makan dengan sumpit, dakwah lewat radio, mushaf Al Qur'an dengan harakat dan semua bentuk urusan duniawi lainnya itu tidak termasuk bid'ah.

Banyak kaum muslimin yang melaksanakan amalan ibadah yang mereka sendiri belum tahu tuntunannya dan hanya mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh umumnya orang. Padahal yang umum dilakukan orang itu belum tentu benar walaupun yang melakukan itu orang-orang yang bergelar kondang. Sekalipun suatu amalan ibadah itu sering dilakukan oleh kebanyakan orang, bahkan sering dilakukan oleh -kyai kondang kalau hal itu tidak didasari oleh tuntunan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah maka wajib kita tinggalkan. Sebaik apapun bentuk ibadah kalau tidak didasari tuntunan Al Qur'an dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah maka itu adalah suatu kesesatan yang nyata, karena ibadah yang baik itu bukan dari hasil utak-atik akal pikiran manusia tetapi baik itu dari Alloh SWT.

Firman Allah dalam surat Al-An'aam ayat 115-117, yang artinya sebagai berikut :

Telah  sempurnalah  kalimat  Tuhanmu  (Al-Qur'an),  sebagai  kalimat  yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (115)

Dan  jika  kamu  menuruti  kebanyakan  orang-orang  yang  di  muka  bumi  ini, niscaya  mereka  akan  menyesatkanmu  dari  jalan  Allah.  Mereka  tidak  lain hanyalah  mengikuti  persangkaan  belaka,  dan  mereka  tidak  lain  hanyalah berdusta (terhadap Allah). (116)

Sesungguhnya  Tuhanmu,  Dia-lah  yang  lebih  mengetahui  tentang  orang yang  tersesat  dari  jalan-Nya  dan  Dia  lebih  mengetahui  tentang  orang-orang yang mendapat petunjuk. (117) [QS. Al-An’aam : 115-117]

Dari ayat-ayat di atas jelaslah bahwa dalam beribadah kita harus mengikuti apa yang sudah dituntunkan dalam agama dan tidak mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini. Kebanyakan orang dalam menjalankan ibadah hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan nenek moyang kita. Kalau dari Al Qur'an memang sudah pasti benarnya akan tetapi waktu melihat suatu hadits pertama kali kita harus ragu sebelum hadits tersebut diteliti keshahihannya karena banyak sekali hadits- yang dibikin oleh orang-orang Israel dengan tujuan untuk merusak aqidah orang Islam.

Demikianlah tulisan ini saya susun dengan keterbatasan keilmuan saya, kalau ada yang salah itu karena kebodohan saya, dan jika ada yang benar itu semata-mata dari Allah SWT. Yang penting di sini adalah berani menulis dan berani menyampaikan kebenaran walaupun itu bertentangan dengan umumnya kebiasaan orang-orang di muka bumi ini. Sekali lagi tulisan ini saya kenakan pada diri saya pribadi dan tidak ada maksud untuk menyinggung orang atau golongan tertentu. Kalau ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, mari kita lakukan amalan ibadah sesuai yang kita yakini kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang sudah kita ketahui, tidak usah saling menyalahkan dan tidak usah merasa paling benar. Hanya Allah SWT yang berhak menilai amalan ibadah yang kita lakukan.

Abi says:

1. Menurut saya, belajar agama Islam bukan berarti sekolah di Madrasah, sampai IAIN/STAIN. Terlalu picik kalau berpendapat demikian. Karena ayat-ayat Allah tersebar di mana-mana. Sedangkan perintah pertama kali yang turun adalah keharusan bagi kita untuk belajar (membaca).
2. Orang kan juga tidak ada masalah berubah, apalagi karena hidayah yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Akan menjadi keutamaan lagi jika apa yang diperoleh diamalkan. Terus semangat brother!
3. Dalam beragama, saya setuju untuk jadi orang bodoh. Dalam arti hanya mengikuti apa yang sudah diperintahkan dalam Quran-Hadist saja. Kalau sudah katam 100% dan sudah diamalkan 100% baru saya akan mikir ajaran baru (yang pasti nggak akan katam to ya.. :p )

admin says:

banar mas Abi,,,
Kita tidak hanya diwajibkan belajar, akan tetapi juga diwajibkan menyampaikan ilmu walaupun hanya satu ayat saja, dan itupun hanya yang sudah kita ketahui saja.

santo says:

sebagai muslim.
sy sangat setuju dan mendukung sepenuhnya dengan artikel diatas.karena sudah jadi perintah untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan.apalagi dilengkapi dengan dasar hadist dan Alqur’an dalam penjelasanya.
semoga ALLAH SWT.memberi pahala kpd antum.
dan tak perlu ambil hati pada kritikan yg tak membangun.!
maju terus saudaraku.

admin says:

mas rudy kan sudah tahu kalau saya belum pernah belajar agama dan hanya membaca brosur MTA, masak disuruh menjelaskan secara lughowi dan syar’i,,walaupun yang saya baca hanya brosur tapi brosur tsb diambilkan dari Al Qur’an dan Hadits Nabi.

Kalau ingin tahu monggo ngaji pada yang orang yang paham terhadap ilmu agama, siapapun orangnya, apapun ormasnya sama saja kalau yang dikaji itu Al Qur’an dan Sunah Nabi. Walaupun ada perbedaan dalam memahaminya itu kan manusiawi, tentang benar dan salah itu kan urusan Alloh.

Maaf kalau komentarnya saya tutup, karena untuk menghindari perdebatan sia-sia yang hanya akan mendapatkan murka dan adzab dari Alloh SWT.

rudyy says:

Ha..ha..ha.. SD Serengan.. SMP Karangdowo…SMA Pakis…mau masuk seni rupa nggak jadi… kapan belajar agamanya mas hadi..? oooo baca brosur mta ya…? pantesan sudah bisa berdakwah….. ngomongin bid’ah lagi…! Mas Hadi tolong dong kasih tahu saya… apa itu bid’ah…(secara lughowi dan syar’i) atau apapun yg mas tahu ttg bid’ah….. matur nuwun… eh..eh tolong jangan ditutup lagi komentarnya….?