Mengganti Puasa Di Hari Yang Lain

Mengganti Puasa

Mengganti puasa di hari yang lain (qadla) ini merupakah suatu keringanan/kemudahan (rukhshah) yang diberikan oleh kepada orang yang tidak dapat melaksanakan puasa di bulan karena sebab-sebab yang dibenarkan oleh ketentuan dalam . Orang-orang yang dimaksud tersebut boleh tidak di bulan ramadlan, akan tetapi mempunyai kewajiban untuk mengganti puasa di hari yang lain.

Yang Wajib Mengganti Puasa Di Hari Yang Lain

Siapakah orang-orang yang boleh tidak puasa di bulan ramadlan dan wajib mengganti puasa di hari yang lain? Yang termasuk orang-orang yang boleh tidak berpuasa dan wajib mengganti puasa di hari yang lain ada dua yaitu orang yang sakit dan orang yang sedang dalam bepergian (). Kedua kelompok ini boleh dan wajib mengganti puasa di hari yang lain sejumlah puasa yang ditinggalkannya.

 

Orang Yang Sakit Boleh Tidak Puasa Tapi Wajib Mengganti Puasa Di Hari Lain

Orang sakit yang boleh tidak puasa dan wajib mengganti puasa di hari yang lain ini yaitu orang sakit yang apabila ia tetap berpuasa akan menambah berat atau akan memperlambat kesembuhan sakitnya, sedang sakitnya itu dapat diharapkan kesembuhannya (bukan sakit yang menahun atau sakit yang kronis dan terus-menerus sehingga sulit diharapkan kesembuhannya).

Mengganti Puasa Di Hari Yang Lain

 

Musafir Boleh Tidak Puasa Tapi Wajib Mengganti Puasa Di Hari Lain

Yang dimaksud musafir ialah orang yang sedang bepergian keluar dari daerah iqomahnya, baik dengan perjalanan yang berat dan sukar maupun dengan ringan dan mudah. Musafir boleh tidak berpuasa dan wajib mengganti puasa di hari yang lain. Namun ini bukan berarti musafir tidak boleh berpuasa, musafir boleh berpuasa dan boleh tidak berpuasa akan tetapi wajib mengganti puasa di hari yang lain. Baik berpuasa maupun tidak berpuasa bagi musafir sama baikknya.
Berpuasa bagi musafir tidak lebih baik daripada tidak berpuasa.

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Kami bepergian bersama SAW. Dan orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa”. [HR. 2 : 238]

Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata : Ketika dalam suatu perjalanan, SAW melihat kerumunan orang, dan seseorang telah dinaungi. Beliau SAW bertanya, “Ada apa ini?”. Mereka menjawab, “Orang yang berpuasa”. Maka beliau bersabda, “Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam bepergian”. [HR. Bukhari 2 : 238]

Dua kelompok di atas yaitu orang yang sakit dan musafir kesemuanya diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan berkewajiban mengganti puasa di hari yang lain.

“Dan barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam bepergian (musafir) maka bolehlah ia berbuka dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya)”. [QS. Al-Baqarah : 184]

“Dan barangsiapa yang sakit atau dalam bepergian (musafir) maka bolehlah ia berbuka dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya)”. [QS. Al-Baqarah : 185].

 

Wajib Tidak Puasa dan Wajib Mengganti Puasa Di Hari Yang Lain

Khusus bagi wanita yang sedang haidl atau nifas wajib tidak puasa dan mengganti puasa di hari yang lain, berdasar riwayat berikut :

Dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata, “Adalah kami haidl dimasa Rasulullah SAW maka kami diperintahkan supaya mengqadla’ (mengganti) puasa dan kami tidak diperintahkan mengqadla’ shalat”. [HR. Al-Jama'ah dari Al-Mu'adzah]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa’id, bahwa Nabi SAW bersabda: “Bukankah apabila seorang wanita itu haidl, ia tidak shalat dan tidak berpuasa? Itulah dari kekurangan agamanya”. [HR. Bukhari 2, hal. 239]

Itulah kelompok orang-orang yang boleh tidak berpuasa dan wajib tidak berpuasa akan tetapi diwajibkan mengganti puasa di hari yang lain.

rivai says:

selama masih mampu puasa.
ya puasa aja, kok report