Musik Dan Nyanyian Dalam Islam

Musik dan Nyanyian

Hiburan merupakan salah satu hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengurangi akibat rutinitas hidupnya tiap hari. Ada banyak sekali hiburan di dunia ini, apalagi pada jaman yang semakin maju saat ini tidaklah sulit untuk memperoleh hiburan. Salah satu hiburan yang hampir tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia adalah musik dan nyanyian. Musik dan nyanyian itu sendiri ada berbagai macam bentuk dan jenisnya, namun disini tidak akan dibahas tentang bentuk maupun jenis musik dan nyanyian tersebut.

 

Musik Dan Nyanyian Dalam Islam

 

-dalil Tentang Musik dan Nyanyian

Musik atau ma'aazif adalah semua alat yang menimbulkan bunyi-bunyian, baik dengan cara dipukul, digesek, dipetik, ditiup, ditekan dan lain sebagainya. Musik dan nyanyian ini sudah ada sejak jaman dulu, namun bentuk maupun jenis musik dan nyanyian pada jaman nabi dulu belum sebanyak saat ini. Tentang hukumnya musik dan nyanyian ini dalam Islam ada dua pendapat. Ada yang berpendapat bermain musik, bernyanyi, melihat maupun mendengarkan musik dan nyanyian itu mubah. Namun ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa bermain musik itu hukumnya haram. Berikut ini dalil-dalil tentang musik dan nyanyian :

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi SAW pernah melewati bagian dari kota Madinah, tiba-tiba beliau melewati para wanita yang memukul dan bernyanyi, mereka mengucapkan, "Kami tetangga dari Bani Najjar. Alangkah baiknya Muhammad sebagai tetanggaku". Maka Nabi SAW bersabda, "Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian". [HR. Ibnu Majah 1, hal. 612, no. 1899]

Dari 'Aisyah bahwasanya ia mengantar (mengiring) pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki dari kaum Anshar, lalu Nabiyyullah SAW bersabda, "Hai 'Aisyah, apakah tidak ada hiburan pada kalian, karena sesungguhnya orang-orang Anshar itu suka hiburan". [HR. juz 6, hal. 140]

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Dahulu 'Aisyah pernah menikahkan kerabatnya dari kaum Anshar, lalu Rasulullah SAW datang dan bersabda, "Apakah kalian mengantarkan wanita (pengantin perempuan)?". Mereka menjawab, "Ya". Beliau SAW bertanya, "Apakah kalian mengantarkannya disertai dengan orang yang akan menyanyi?". 'Aisyah menjawab, "Tidak". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kaum Anshar itu adalah kaum yang suka hiburan. Alangkah baiknya kalau kalian mengantar dengan disertai orang yang menyanyikan, "Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian, penghormatan kepada kami dan penghormatan kepada kalian". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no. 1898]

Dari Abul Husain (nama aslinya Khalid Al-Madaniy), ia berkata : Dahulu ketika kami di Madinah pada hari 'Aasyuuraa', pada waktu itu ada wanita-wanita sedang memukul rebana dan bernyanyi, lalu kami masuk pada Rubayyi' binti Mu'awwidz, lalu kami ceritakan kepadanya yang demikian itu. Maka dia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW datang kepada saya pada pagi hari pernikahan saya, sedangkan di dekat saya ada dua wanita yang bernyanyi yang dalam liriknya (isinya) menyebutkan tentang kebaikan orang-orang tuaku yang gugur di perang Badr, dan diantara yang mereka nyanyikan adalah, "Dan diantara kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi". Maka (Rasulullah SAW) menegur, "Adapun kata-kata yang ini jangan kalian ucapkan, karena tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi besok pagi, kecuali Allah". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1897]

Dari Khalid bin Dzakwan, ia berkata : Rubayyi' binti Mu'awwidz bin 'Afraa' berkata : Dahulu Nabi SAW datang lalu masuk ketika diselenggarakan pernikahanku, lalu beliau duduk di atas tikarku seperti dudukmu di dekatku, lalu anak-anak perempuan kami mulai menabuh rebana dan bernyanyi dengan menyanjung kepahlawanan orang-orang tuaku yang gugur pada perang Badr. Ada salah satu diantara mereka yang bernyanyi yang syairnya, "Di kalangan kita ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi". Lalu beliau bersabda, "Tinggalkanlah ini dan ucapkanlah (nyanyikanlah) apa yang tadi kamu nyanyikan". [HR. Bukhari juz 6, hal. 137]

Dari 'Aisyah, ia berkata Abu Bakar pernah datang kepada saya, sedangkan waktu itu ada dua wanita diantara wanita-wanita Anshar yang bernyanyi dengan syair-syair yang diucapkan orang-orang Anshar pada hari perang Bu'aats, 'Aisyah mengatakan bahwa kedua wanita tersebut pekerjaannya bukan sebagai penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata, "Apakah dengan seruling syaithan di rumah Nabi SAW?". Dan kejadian itu pada hari raya 'Idul Fithri. Maka Nabi SAW bersabda, "Hai Abu Bakar, sesungguhnya masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan pada hari ini adalah hari raya kita". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no. 1898]

Dari 'Aisyah, bahwasanya pada hari Mina Abu Bakar datang kepadanya, sedangkan di dekatnya ada dua wanita yang bernyanyi dan bermain rebana, sedangkan Nabi SAW menutupi wajahnya dengan pakaiannya, lalu Abu Bakar membentak kedua wanita (yang bermain rebana tadi), maka Nabi SAW membuka wajahnya dan bersabda, "Biarkan keduanya hai Abu Bakar, karena ini adalah hari raya. Dan hari itu adalah hari-hari Mina". 'Aisyah berkata, "Aku melihat Nabi SAW menutupiku, sedangkan aku melihat kaum Habsyi mereka bermain di . Maka ('Umar) membentak mereka". Lalu Nabi SAW bersabda, "Biarkanlah aman kaum Bani Arfidah, yakni dengan aman". [HR. Bukhari juz 2, hal. 11]

Dari Muhammad bin Haathib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Yang membedakan antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara (diumumkannya) dalam pernikahan". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1896]

Dari 'Aisyah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Umumkanlah pernikahan ini, dan pukullah rebana padanya". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1895, ini dla'if karena di dalam sanadnya ada perawi bernama Khalid bin Ilyas (Abul Haitsam Al-'Adawiy)]

Dari Buraidah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah pergi dalam salah satu peperangan, ketika beliau kembali, ada seorang wanita berkulit hitam yang menyambut kedatangan beliau itu sambil mengatakan, "Ya Rasulullah, sungguh aku telah bernadzar, jika Allah mengembalikan engkau dengan selamat, aku akan menabuh rebana sambil bernyanyi di hadapanmu. Maka jawab beliau, "Kalau benar kamu telah bernadzar, maka tabuhlah, tetapi kalau tidak bernadzar, jangan kamu tabuh". Lalu wanita itu menabuhnya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk ke rumah Nabi SAW, sedang si wanita tadi masih tetap menabuh. Lalu 'Ali menyusul masuk, sedang si wanita tadi masih tetap menabuh. Kemudian 'Utsman menyusul masuk, dan si wanita tadi masih tetap menabuh. Lalu datanglah 'Umar, maka si wanita tadi (berhenti menabuh) dan menyembunyikan rebananya itu di bawah pinggulnya lalu mendudukinya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh syaithan benar-benar takut kepadamu hai 'Umar. Aku duduk sedang si wanita itu menabuh rebana, kemudian Abu Bakar masuk, sedang si wanita itu tetap saja menabuh rebana, menyusul 'Ali masuk, si wanita itu tetap menabuh rebana, lalu 'Utsman masuk, sedang si wanita itu tetap saja menabuh rebana. Tetapi begitu kamu masuk, maka wanita itu spontan menyembunyikan rebananya". [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 285, no. 3773, dan ia menshahihkannya]

Dari hadits-hadits di atas bisa kita pahami bahwa bermain musik, melihat, maupun mendengarkan musik adalah sudah ada sejak jaman Nabi SAW, dan beliaupun tidak melarangnya. Dan bisa pula kita pahami bahwa bermain musik dan bernyanyi, melihat maupun mendengarkannya, hukumnya adalah mubah (boleh).

 

Haramnya Musik Dan Nyanyian Dalam Islam

Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa bermain musik dan nyanyian itu hukumnya haram berdasar hadits-hadits sebagai berikut :

Dari 'Abdur Rahman bin Ghanmin Al-Asy'ariy, ia berkata : Abu 'Amir atau Abu Malik Al-Asy'ariy menceritakan kepadaku, demi Allah dia tidak berbohong kepadaku, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Sungguh akan ada di kalangan ummatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik, dan beberapa kaum akan mendatangi tempat yang terletak di dekat gunung tinggi, mereka datang dengan berjalan kaki untuk suatu keperluan. Lantas mereka (yang didatangi) berkata, "Kembalilah kepada kami besok pagi". Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka, dan (Allah) merubah yang lainnya menjadi kera dan babi hingga hari qiyamat". [HR. Bukhari juz 6, hal. 243]

Dari Abu Malik Al-Asy'ariy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh ada segolongan dari ummatku yang minum khamr yang mereka menamakannya bukan nama (asli)nya, kepala mereka disibukkan dengan musik dan biduanita. Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam tanah dan merubah mereka menjadi kera dan babi". [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1333, no. 4020]

Dari Ibnu 'Abbas, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan kepadaku atau diharamkan (kepadaku) khamr, judi dan Kuubah". Dan beliau bersabda, "Setiap yang memabukkan adalah haram". Sufyan berkata : Lalu aku bertanya kepada 'Ali bin Badzimah tentang arti Kuubah. Ia menjawab, "(Kuubah itu adalah) tambur". [HR.   juz 3, hal. 331, no. 3696]

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada kalian khamr, judi dan Kuubah (tambur), dan beliau bersabda, "Dan setiap yang memabukkan adalah haram". [HR. Ahmad juz 1, hal. 350]

Dari 'Imran bin Husain bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Pada ummat ini akan ada (siksaan berupa) ditenggelamkan ke bumi, diganti rupa dan dilempar batu dari langit". Lalu ada seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin bertanya, "Ya Rasulullah, kapan peristiwa itu terjadi?". Beliau menjawab, "Apabila telah merajalela penyanyi-penyanyi dan musik, dan khamr diminum (dimana-mana)". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 336, no. 2309, hadits ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama 'Abbaad bin Ya'quub Al-Kuufiy dan 'Abdullah bin 'Abdul Qudduus, keduanya dla'if]

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila harta fai' (rampasan perang) sudah dijadikan barang rebutan, amanat (kepemimpinan) dijadikan sebagai barang ghanimah (rampasan), zakat dihutang (tidak dibayar), dipelajari hal-hal yang bukan agama, suami tunduk kepada istrinya, ibunya didurhakai, orang lebih dekat kepada kawannya, sementara ayahnya sendiri dijauhi, suara-suara gaduh di masjid-masjid, yang menjadi kepala qabilah (kampung) adalah orang yang fasiq, yang menjadi pemimpin bagi suatu kaum adalah orang yang sangat rendah akhlaqnya, seseorang disanjung-sanjung karena takut kejahatannya, merajalelanya penyanyi-penyanyi dan musik, khamr diminum (dimana-mana), generasi yang di belakang mengutuk generasi pendahulunya, maka di saat yang demikian itu hendaklah mereka waspada datangnya angin merah, gempa bumi, tenggelam ke dalam tanah, perubahan (menjadi kera dan babi) dan pelemparan batu dari langit serta beberapa tanda (kekuasaan Allah) yang akan terjadi berturut-turut seperti untaian (benda) yang talinya putus, maka akan (berjatuhan benda tersebut) berturut-turut". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 335, no. 2308, hadits ini dla'if karena di dalam sanadnya ada perawi bernama Rumaih Al-Judzamiy, ia majhul]

Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Janganlah kalian menjual penyanyi-penyanyi wanita, jangan kalian membeli mereka dan jangan pula kalian ajari mereka itu, karena sama sekali tidak ada kebaikannya memperdagangkan mereka itu, dan hasilnya pun haram, dan seperti ini, diturunkan ayat (yang artinya), "Diantara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (orang) lain dari jalan Allah, (QS Luqman : 6) sampai akhir ayat". [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 25, no. 3247, hadits ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama 'Ali bin Yazid bin Abi Hilaal].

Dari Mujahid, ia berkata : Dahulu ketika saya bersama Ibnu 'Umar, tiba-tiba mendengar suara tambur, lalu (Ibnu 'Umar) memasukkan kedua jarinya ke kedua telinganya, kemudian ia mundur, sehingga berbuat demikian tiga kali. Kemudian ia berkata, "Demikianlah dahulu Rasulullah SAW berbuat". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1901, hadits ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Laits bin Abi Sulaim]

Dari hadits-hadits yang mereka pakai dasar haramnya bermain musik tersebut, kalau kita fahami bahwa bermain musik itu haram, tentu berlawanan dengan hadits-hadits yang di depan yang membolehkan bermain musik. Oleh sebab itu, kami memahami maksud hadits tersebut bahwa Nabi SAW memberitahukan akan terjadi zaman kerusakan ummat, dimana orang-orang sudah tidak mempedulikan lagi halal-haram, dan merajalelanya pergaulan bebas dan perzinaan, yang biasanya dibarengi dengan minuman keras, penyanyi atau penari atau nyanyian dan musik. Jadi kesimpulannya yang kami pahami bahwa musik dan nyanyian yang diharamkan itu adalah musik dan nyanyian yang digunakan untuk mengiringi kemaksyiatan. Walloohu a'lam.

Dengan adanya perbedaan pendapat tentang hukumnya musik dan nyanyian dalam Islam tersebut hendaklah masing-masing saling menghormati, tidak perlu mempermasalhkan perbedaan itu. Bagi yang menganggap bahwa musik dan nyanyian itu haram, janganlah melarang orang lain yang masih suka mendengarkan musik dan nyanyian. Begitu pula sebaliknya bagi yang menganggap bahwa musik dan nyanyian itu mubah, janganlah mengolok-olok atau menyalahkan orang yang menganggap musik dan nyanyian itu haram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *